Selasa, 11 Juni 2013

Tertipu Oleh Es Krim Yoghurt



           
 “ Tatha, bangun ! liat udah jam berapa sekarang ! “ teriak mama dengan nada agak kesal. Tathapun terbangun dengan lemas dan menoleh kearah jam yang ada di kamarnya. Matanya langsung terbelalak melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 06.50. “ yaampun mama, kenapa ga dibangunin dari tadi. “ kata Tatha dengan sedikit berteriak. “ udah, kamunya aja yang susah dibangunin ! “ jawab mama. Awalnya, ia bingung apa yang harus dilakukan pertama kali. Dan akhirnya ia langsung ngibrit ke kamar mandi. Seusai bersiap – siap, Tatha pamit pada mama untuk pergi kesekolah.

“ Ma, Tatha berangkat ya” pamit Tatha sambil mencium tangan mama.
“ Ga sarapan dulu ? udah mama buatin nasi goreng tuh “.
“ Ga usah ma. Biarin nasinya buat mama aja, assalamu’alaikum “ kata Tatha sambil berlari.  Mama hanya bisa tersenyum melihat tingkah putrinya itu.
            Sesampainya di sekolah, “ ee..eehh mau kemana kamu ? “ tanya pak Sobar yang hari itu bertugas sebaga guru piket. Padahal, tadinya pak Sobar sedang menoleh ke arah yang berlawanan dengan Tatha. Pak Sobar memang terkenal dengan julukan pak burung hantu karena penglihatannya yang sangat tajam dan wajahnya yang sedikit menyeramkan . Tatha kira ia tidak bakal kena hukuman dari pak Sobar, namun perkiraannya salah. “ saya mau masuk,pak ” jawab Tatha dengan napas yang sedikit tersenggal – senggal.  “ kamu ga lihat sekarang udah jam berapa, kamu itu udah telat 15 menit. Apa alasan kamu telat ?” tanya pak Sobar. “maaf, pak saya bangun kesiangan” jawab Tatha sambil menunduk. “ Tatha Tathaaa dari dulu alasanmu selalu aja begitu. Baiklah, sekarang kamu lari 5 keliling !” perintah pak Sobar. Tatha terkejut mendengar keputusan pak Sobar. Padahal perjalanannya dari rumah ke sekolah Tatha lari sepanjang jalan dan kali ini ia harus lari juga sebanyak 5 keliling. Perasaannya menjadi kesal, kecewa, kelah, sedih campur aduk menjadi satu. Dan Tatha bengong mendengar perkataan pak Sobar.
“ Tunggu apa lagi kamu ? cepat lari 5 keliling ! “perintah pak Sobar.
“ I i iya pak” jawab Tatha gugup. Dan iapun langsung lari untuk menjalani hukuman.
            Hukuman dari pak Sobar telah selesai Tatha jalani, dan iapun langsung naik ke lantai 3 untuk memasuki kelasnya. Kali ini ia beruntung, karena bu Ani tidak masuk, jadi kelasnya kosong dan ia tidak mendapat hukuman 2 kali. Begitu pintu kelas telah terbuka, Tatha masuk dengan wajah yang tidak karuan. Teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan kosong. “ ya ampun Tathaaa, abis ngapain ? kok mukanya ga karuan gitu ? “ tanya cika perhatian. “ nanti aja ya di ceritainnya, aku masih cape banget “ jawab Tatha dengan wajah memelas. “ yaudah nih minum, biar capenya ilang “ saran Gina sambil menyodorkan botol minum miliknya. Tanpa pikir panjang, Tatha langsung menyergap botol itu dan meminumnya.
            Tak terasa, bel istirahat telah berbunyi. Para siswa – siswi berhamburan keluar. Ada yang ke kantin, ke perpustakaan, dan ke taman sekolah. “ Ta, ke taman yuk ! capenya udah ilang kan ? “ ajak Gina. “ iya yuk! Kamu kan janji mau cerita tentang tragedi tadi pagi hahaha” ajak cika juga. Mereka bertiga tertawa mendengar celetukan cika. Dan Tathapun menyetujui ajakan kedua temannya itu. Ketika di taman, Tatha mulai menceritakan kejadiannya secara detail. Kedua temannya terlihat serius mendengarkan celotehannya. Sesekali mereka tertawa terbahak – bahak karena Tatha yang memeraktikan wajah pak Sobar yang sedang marah padanya.
            “ Hahahaha, udahan ah Ta, sakit perut nih gara – gara denger ceritamu. “ pinta Cika. “ Eh, kita jalan yuk ke toko buku. Udah lama nih ga ke sana” ajak Tatha. “ ayo, aku juga mau nyari novel baru nih “ kata Gina bersemangat. “ tapi kapan ? “ tanya Cika. “ gimana kalo besok aja kan kita libur tuh “  saran Gina. “ ayoo ” jawab Tatha dan Cika kompak disertai semangat.
            Keesokan hari telah tiba. “ Tinut...tinut...tinut “ terdengar suara hp Tatha yang berbunyi. Ternyata, ada sms dari Cika yang berisi :
Ta, jadi  ga kita pergi ke toko bukunya ?
Tatha segera membalasnya dengan mengiyakan dan menyuruhnya untuk ketemuan di tempat biasa mereka berkumpul. “ Tathaaa, ayo sarapan dulu “ perintah ibu. Tathapun segera menuju ke ruang makan.
“ Ma, nanti Tatha mau ke toko buku ya bareng Gina sama Cika “ izin Tatha.
“ Iya, tapi kamu ga boleh pergi sebelum rumah ini rapi ! “
“ Yah, mama nanti temen aku nungguinnya kelamaan “
“ Ya terserah kamu, pokoknya kalo rumah belom rapi, kamu ga boleh pergi. Ini hukuman buat kamu karena kemarin telat ke sekolah. “
“ Yaudah iya deh iya “ akhirnya Tatha mengiyakan walaupun dengan wajah agak cemberut.
            Seusai sarapan, Tatha memulai aksinya untuk merapikan rumahnya. Dengan cekatan ia membersihkan debu – debu yang menempel pada perabotan rumahnya. Sesekali mamanya membantu Tatha. Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 09.45 padahal ia janji pukul 10.00 telah berada di tempat biasa mereka bertemu. Sementara ia belum siap sama sekali. Untung, eumahnya telah rapiu dan bersih. Jadi Tatha bisa langsung bersiap- siap. Setaelah siap, Tatha langsung pamit dan pergi menuju tempat yang dijanjikan.
            “ Aduh, si Tatha kemana sih ? tadi janjinya jam 10 sekarang udah jam 10 lewat 17 belom nongol juga “ keluh Cika. “ paling dia telat kaya biasa “ kata Gina tenang. Tak lama kemudian terlihat Tatha yang sedang berlari – lari kecil menghampiri Gina dan Cika. “ tuh dia si Tatha “ tunjuk Gina. “ maaf ya, tadi aku abis dihukum dulu sama mama gara – gara kemarin telat “ mohon Tatha. “ yaudah, dasar miss telat. Ayo berangkat ! “ kata Cika.
            Mereka langsung menuju tempat yang dituju. Ketika sampai, mereka langsung berpencar mencari buku kesukaanya masing – masing. Tatha ke tempat komik, Cika ke tempat buku - buku non fiksi dan Gina ke tempat novel fiksi. Beberapa lama kemudian, mereka bertemu di kasir untuk membayar buku – buku yang telah dibeli.
            “ Eh, kalian laper ga ? cari makan yuk !” ajak Gina. “ iya, laper nih “ kata Cika mengiyakan. Mereka bertiga berjalan mencari makan sambil melihat – lihat benda yang menarik menurut mereka. Saat mereka berjalan, mereka melihat kios es krim yogurt. Mereka penasaran ingin mencoba es krim tersebut. “ eh, mahal ga tapi ? soalnya uang ku tinggal sedikit kan udah buat dibeliin buku “ kata Gina. “ kayanya ga terlalu mahal deh, itu ada tulisan  Rp 1.500/gram “ jelas Cika. “ Yaudah cobain yuk ! “ ajak Tatha.
            Sesampai di sana, mereka langsung menyambar gelas yang disediakan. “ Ta, coba kamu dulu yang ngambil es krimnya “ perintah Gina. “ ah, ga mau ah “ tolak Tatha. “ udah sini aku aja yang duluan “ kata Cika dengan penuh percaya diri. Cikapun segera menekan tombolnya dan es krim yoghurt jatuh ke dalam gelas Cika. Nampaknya, Cika keasyikan mengambil es krimnya, al hasil es krim Cika lebih banyak jika dibandingkan dengan Tatha maupun Gina. Setelah itu, mereka mengambil toping es krim yang diinginkan dengan sesuka hati khususnya Cika. Tibalah pada sesi penimbangan, Cika meletakkan es krim yoghurtnya di atas timbangan dan menunjukkan berat 23,3 gram. Pelayan langsung menghitung biaya yang harus dibayar Cika. “ 35 ribu rupiah “ kata pelayannya. Cikapu terbelalak. Mereka bertiga saling berpandangan dan menunjukkan ekspresi kaget yang membuat mereka bertiga ingin tertawa namun ditahan.
            Selanjutnya, Gina dan Tatha melakukan hal yang sama dilakukan Cika. Gina harus membayar 25 ribu rupiah sedangkan Tatha harus membayar 21 ribu rupiah. Untungnya, Tatha masih memiliki cukup uang. “ Ta, aku minjem uang kamu dulu ya, uangku kurang nih “ bisik Cika. “ Yaudah “ jawab Tatha sambil menahan tawa. Merekapun langsung membayar es krim tersebut dan pergi dari meja kasir. Setelah itu, mereka tertawa terbahak – bahak atas kejadian barusan walaupun sebenarnya sedikit menyesal telah membeli es krim tersebut. “ Hahaha yang paling parah si Cika tuh sampe 35 ribu, lagian sih ngambil es krimya keasyikan “ kata Tatha.  “ Tau nih padahal duit segitu kalo di beliin bakso pasti kenyang, lah kalo ini belom tentu kenyang “ sesal Gina. “ Tulisannya sih Rp 1500/gram kirain murah ternyata malah bikin bangkrut “ gerutu Cika. Namun, akhirnya mereka mengikhlaskan dan telah menganggap itu adalah sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar